Ulang Tahun Ke-17
Published under Makhluk Gaib, SurabayaKenalkan nama saya Ali, teman kampus saya lebih sering memanggil dengan sebutan El (plesetan dari ucapan Inggris Al). Kejadian ini terjadi tepatnya 5 tahun silam saat saya masih duduk di bangku SMA.
Saat itu sedang diadakan kegiatan penerimaan anggota baru, kegiatannya diadakan dua hari satu malam di dalam sekolah. Di sekolah saya setiap hari Sabtu hanya masuk sampai jam 9 saja, setelah itu ada kegiatan ektrakulikuler. Jadi setelah pulang sekolah kami melaksanakan kegiatan tersebut yang diteruskan hingga malam dan esok harinya (kami menginap di sekolah). Memang saat itu bertepatan dengan hari kelahiran saya. Sama seperti tahun-tahun yang lalu yang sering saya jalani, hari ulang tahun saya tidaklah saya anggap spesial. Tak ada acara yang spesial di keluarga saya pada hari ulang tahun. Dan saya memang tak pernah menanggapi dengan serius tentang hari ulang tahun saya yang ke-17.
Saya saat itu tak tahu kalau teman-teman saya mempersiapkan sebuah kejutan untuk saya. Saya orang yang jarang serius, senang bercanda dan selalu terlihat tenang, dan seharian itu waktu kegiatan itu saya jadi serba salah karena saya memang selalu disalahkan dalam kegiatan saat itu. Tapi saya menganggapnya enteng, tak menanggapi serius akan kemarahan teman-teman saya semua. Malam harinya merupakan puncak mereka mengerjai saya. Mereka benar-benar berusaha mengerjai saya, tapi entahlah... seolah-olah saya melihatnya mereka marah tak jelas alias nglantur, padahal saya tidak tahu kalau mereka mengerjai saya dan berusaha membuat saya merasa bersalah dan marah. Lalu saya ditarik oleh kakak pendamping kegiatan ke belakang sekolah. Disana saya dimarahi sendiri, diomeli macam-macam yang menurut saya sangatlah tidak bermutu.
Saya akui di saat saya dibawa ke belakang sekolah dan dimarahi habis-habisan, kemarahan saya mulai sedikit bergejolak (sebenarnya saya bersifat penenang, yang tak mudah tersulut emosi). Dalam omelan kakak pendamping itu saya masih berpikir jernih, saya jawab semua pertanyaannya, saya bantah semua dugaannya dan saya tunjukkan bukti-bukti. Dalam pikiran tenang itu saya sempat berpikir jika orang itu terus memarahi saya tanpa alasan yang jelas selama 30 menit, maka akan saya lempar batu ke kepalanya. Benar, saya sempat melirik kanan kiri memilih batu yang besar dan cukup kuat untuk saya lempar ke kepalanya. Memang saya masih bisa berpikir tenang, tetapi jika saya ditekan begitu terus padahal argumennya yang dibicarakan terhadap saya salah kaprah, maka saya siap membela diri. Ya karena melalui omongan selalu dibantah ya salah satunya harus menggunakan kekerasan. Maaf ya mas...
Tapi untungnya sebelum niat itu saya lakukan, tiba-tiba teman-teman saya datang dari balik gang laboratorium dengan membawa lilin dan membawa sebuah untaian bunga dan daun-daun kering sambil mengucapkan "Slamat ulang tahun... Happy birthday...". Wawww... yang jelas saya kaget juga, dalam keluarga saya, kami tidak pernah merayakan ulang tahun, hari ulang tahun itu saya anggap seperti hari-hari biasanya, tak ada yang spesial. Ya mungkin satu dua yang kasih selamat pada saya dan mereka yang mengucapkan selamat kebanyakan malah teman-teman jauh alias bukan teman dekat. Memang saya jarang memberi tahu ulang tahun saya pada teman-teman, di jejaring sosial pun saya tidak menuliskan tanggal ulang tahun dengan benar, hanya bulannya saja yang saya tulis benar. Sedikit saya selewengkan tanggalnya menjadi 29 Februari dan tahunnya di tua kan menjadi 88.
Sambil membawa lilin dan menaruh untaian bunga dan daun kering sehingga membuat saya sangat jelek, mereka tertawa-tawa puas telah mengerjai saya. Yang ada di sana hanya panitia saja, sedangkan peserta sudah terlelap tidur. Lalu mereka menyuruh saya untuk meniup lilin-lilin yang mereka bawa yang banyak jumlahnya, yang sebenarnya untuk renungan malam pada pagi harinya. Lalu saya tiup satu persatu lilin-lilin itu hingga padam. Ketika lilin terahir akan saya tiup, seorang teman menyuruh saya untuk berdoa. Memang tidak ada tradisi tiup lilin di ulang tahun saya sebelumnya, jadi saya tak tahu kalau sebelum tiup lilin harus berdoa terlebih dahulu.
Setelah saya pikir-pikir, saya berdoa untuk keselamatan orang tua saya, kesuksesan saya, dan yang terakhir entah kenapa saya berdoa agar bisa melihat hantu/setan. Mungkin doa terakhir tersebut akibat selama seminggu itu saya sering mendengar cerita dari orang-orang yang sebelumnya telah melihat setan, yang akhirnya mengakibatkan saya penasaran apakah benar setan itu ada. Saya bukan orang yang percaya akan mahluk gaib, setan atau yang lainnya. Orang tua saya bilang kalau mereka memang ada tapi tak seharusnya mempercayainya, walaupun bapak, ibu dan kakak saya pernah melihatnya.
Singkat cerita, malam jam 2 kami mulai membangunkan peserta untuk renungan malam. Peserta kami bawa ke mushola sekolah. Disana akan diadakan sholat malam berjamaah. Musola kami berada di bangunan paling Timur, diantara kelas X-4 dan X-5. Dan di Timurnya adalah lapangan basket. Memang sebelumnya pernah ada kabar kalau di lapangan basket yang segaris dengan lapangan-lapangan lain (lompat jauh, tolak peluru, voli, dll) dan berujung dengan aula sekolah tersebut, ada tempat yang paling besar tekanan rohnya (kata teman saya dari SMA lain yang bisa merasakan hawa mahluk seperti itu). Tapi saya tak takut, karena pada saat pentas seni dulu saya dan teman-teman berkumpul di kelas X-5 yang posisinya tepat disamping lapangan basket (dulu saya duduk di kelas X-5 pada saat kejadian sudah duduk di bangku XI IPA).
Karena saya tak percaya akan adanya hantu dan sejenisnya, saya mengajak dua orang teman (cowok) untuk berjalan-jalan ke X-6 yang berada paling belakang (Selatan) sekolah karena menurut cerita di sekitar pohon pisang yang ada di sepanjang Selatan lapangan sering ada rasa aneh saat kesana. Jadi saya dan teman-teman saya yang tak mengikuti sholat malam karena dapat tugas jaga keamanan jalan-jalan ke belakang sekolah.
Memang di sekolah saya terdapat banyak pohon, mulai dari pisang sampai pohon jati dan mangga. Saat masih berjalan di koridor X-5, saya melihat seperti ada orang di samping pohon pisang yang berada di samping kelas X-6. Saat itu saya berpikir kalau itu orang pencari rumput. Maklum kalau musim hujan banyak rumput yang tumbuh tinggi di lahan-lahan yang tak dijadikan lantai semen, rumputnya pun tinggi-tinggi. Mungkin kalau orang yang pertama kali masuk sekolah kami ini akan berkata "ini sekolah apa sawah??" (seperti saya saat pertama kali masuk sekolahan ini), habisnya semua lapangan kecuali lapangan basket dan lapangan upacara tidak di pafing atau di semen.
Selain itu pada saat sholat ishak jam 10 malam saya memang bertemu dengan pencari rumput yang masuk ke sekolahan dan juga saya dan teman-teman saya berbincang banyak dengan bapak tersebut jadi saya masih berpikir kalau itu adalah pencari rumput. Saya lihat orang tersebut berdiri menghadap Timur, sikapnya seolah-olah sedang sholat tetapi menghadap Timur. Pakaiannya putih halus (tidak kusut) dan rapi. Saya tak begitu jelas melihat wajahnya karena sedikit terkena bayangan daun pisang, tapi saya dapat melihat dengan jelas lekukan hidung dan mulutnya. Kepalanya sedikit menunduk persis seperti orang sholat.
Hingga mendekati koridor kelas X-6 hati saya berasa tak enak, seolah-olah jantung saya bisa bicara, seolah-olah jantung saya berdetak dan berkata "Yang kau lihat itu bukan manusia!!!". Tapi pikiran saya masih berkata kalau itu manusia. Selangkah kemudian jantung saya berdetak dengan cepat dan dia seolah-olah berkata lagi kalau yang saya lihat itu bukan manusia. Dua tiga langkah kemudian detak jantung saya seolah-olah makin keras dan saya tak tahu harus berkata apa, yang jelas perasaan yang tadinya tenang menjadi mencekam dan takut. Tapi otak saya masih berpikir kalau itu manusia bukan hantu/ setan. Sumpah... dalam pikiran saya yang saya lihat itu tetap manusia, hanya hati saya saja yang mengatakan itu adalah setan.
Otak saya pun berjalan dan mendapatkan ide untuk mengetahui yang sebenarnya, apakah yang saya lihat itu setan atau manusia. Saya yang berjalan di sebelah kiri lalu berpindah ke tengah kedua teman saya. Saya hentikan mereka berdua, saya rangkul keduanya mendekati saya. Saya bisikkan sebuah pertanyaan pada mereka.
"Kalian lihat orang di depan tidak?", tanya saya.
"Orang siapa? Jangan nakut-nakuti kamu!!", balas mereka.
"Itu yang pakai baju putih di samping pohon pisang di depan?", kata saya memperjelas pandangan ke arah segerombol pohon pisang di depan kami.
"Alahhh... itu pohon pisang yang terkena lampu atau bayangannya yang seperti pohon", jawab mereka ketus.
"Bukan, itu lo yang menghadap Timur?", lebih saya perjelas lagi.
"Mana?", balas mereka sambil penasaran.
"Beneran kalian tak melihatnya?", tanya saya lagi. Dan mereka membalas dengan menggeleng.
Melihat jawaban mereka saya simpulkan kalau yang saya lihat itu bukan manusia tapi hantu. Bulu kuduk saya mulai berdiri, jantung berdebar-debar, rasa takutpun merajalela. Ketika kedua teman saya mau melanjutkan melangkah ke depan saya tarik mereka. Entah kenapa saya yang paling kecil di antara mereka berdua dapat sekuat tenaga menarik mereka, padahal mereka menarik saya kearah berlawanan. Rasa takut dan khawatir menjadikan saya semakin bingung mau berbuat apa. Sebagai panitia saya tak boleh membuat panik teman-teman saya apa lagi peserta. Tapi saya bingung harus berbuat apa, yang bisa saya lakukan hanya diam sambil merahasiakannya. Karena saya paksa, mereka ahirnya mengikuti saya. Selangkah menjauh dari si hantu saya melihat dia masih ada, dua langkah kemudian saya lihat belakang masih ada dan langkah ketiga saya lihat lagi barulah dia lenyap. Lenyap entah kemana, yang jelas saya sudah tak melihatnya lagi.
Kami kembali ke musola bersama teman-teman. Saya waktu itu langsung keringat dingin, wajah pucat dan nafas sedikit tersenggal-senggal. Kedua teman saya belum tahu apa yang terjadi, mereka tak curiga karena mereka berdua tak melihatnya. Lalu datanglah teman saya yang cewek yang sedang ambil kotak P3K karena ada peserta yang mengeluh sakit. Dia melihat saya dan memberi perhatian pada saya. "Ada apa El... kok pucat? Jangan-jangan kau lihat setan ya...?", itu pertanyaanya dan langsung saya jawab dengan anggukan. Sebelum dia dan dua orang teman saya yang dari tadi bersama saya bicara, saya bilang pada mereka "Jangan bilang siapa-siapa, nanti kalau sudah pagi aja saya ceritakan", jawab saya singkat dan dimengerti semuanya oleh teman saya.
Saat itu saya mendengar suara burung gagak, seolah-olah suara itu memperingatkan saya dan teman-teman saya. Saya dan teman-teman saya selaku panitia merahasiakannya pada peserta.
Menjelang subuh saat suara imsak, ketika peserta siap-siap sholat subuh dan panitia sedang rapat kegiatan pagi, saya melihat sekelebat bayangan. Itu memang sebuah bayangan karena sorotan lampu taman sekolah. Tapi anehnya bayangan itu menghilang di persimpangan ruang. Yang paling saya ingat bayangan itu seperti wanita yang rambutnya diikat kepang kuda. Kepangan rambutnya terlihat jelas pada bayangan hitam di tembok. Saat saya lihat ke belakang tak ada satupun orang yang ada di sana.
Setelah olah raga pagi, mulai lah pembicaraan. Pembicaraannya tentang yang saya lihat semalam. Sebenarnya saya tak mau membicarakan tetapi teman saya yang melihat saya pucat semalam memojokkan saya dan memaksa saya untuk menceritakan. Semuanya kaget, apa lagi kedua teman saya yang pergi bersama saya, keduanya sama sekali tak melihat apa-apa selain pohon pisang. Mengapa hanya saya saja yang melihatnya, mengapa kedua teman saya tak melihatnya padahal kita jalan bersama, berangkulan. Mengapa hanya saya saja yang melihat sosok putih itu yang tiba-tiba menghilang. Hingga kini saya tak tahu mengapa itu terjadi, yang jelas ternyata hanya saya saja yang melihat dan merasakan sosok putih yang seolah-olah sholat menghadap Timur dengan kepala merunduk. Saya yakin itu manusia karena saya melihat lekukan lipatan tangan, lekukan hidung dan mulut. Semuanya tak percaya, hingga peserta pun ikut bicara.
Kebanyakan peserta mengatakan kalau sebelum sholat malam tersebut mereka malihat kelelawar yang sangat besar terbang menembus jaring pembatas lapangan basket. Kalian tahukan jaring kawat di pinggir lapangan yang bertujuan agar bola tidak keluar jauh. Nah jaring yang tak bisa tembus bola tenis sekalipun tiba-tiba tembus oleh kelelawar yang sangat besar. Menurut cerita mereka selain itu dari kelas X-4 kebanyakan peserta melihat burung, entah burung apa yang menembus masuk ke ruang kelas itu tepat di jendela kaca.
Mungkin ini kado dari Tuhan atas doa saya lewat lilin terahir. Doa agar bisa melihat setan telah terkabul. Sampai sekarang saya masih merasakan ketegangan saat itu. Dan mulai saat itu saya tahu saya tak boleh berdoa sembarangan apalagi doa yang jelek.
- Ali -
Saat itu sedang diadakan kegiatan penerimaan anggota baru, kegiatannya diadakan dua hari satu malam di dalam sekolah. Di sekolah saya setiap hari Sabtu hanya masuk sampai jam 9 saja, setelah itu ada kegiatan ektrakulikuler. Jadi setelah pulang sekolah kami melaksanakan kegiatan tersebut yang diteruskan hingga malam dan esok harinya (kami menginap di sekolah). Memang saat itu bertepatan dengan hari kelahiran saya. Sama seperti tahun-tahun yang lalu yang sering saya jalani, hari ulang tahun saya tidaklah saya anggap spesial. Tak ada acara yang spesial di keluarga saya pada hari ulang tahun. Dan saya memang tak pernah menanggapi dengan serius tentang hari ulang tahun saya yang ke-17.
Saya saat itu tak tahu kalau teman-teman saya mempersiapkan sebuah kejutan untuk saya. Saya orang yang jarang serius, senang bercanda dan selalu terlihat tenang, dan seharian itu waktu kegiatan itu saya jadi serba salah karena saya memang selalu disalahkan dalam kegiatan saat itu. Tapi saya menganggapnya enteng, tak menanggapi serius akan kemarahan teman-teman saya semua. Malam harinya merupakan puncak mereka mengerjai saya. Mereka benar-benar berusaha mengerjai saya, tapi entahlah... seolah-olah saya melihatnya mereka marah tak jelas alias nglantur, padahal saya tidak tahu kalau mereka mengerjai saya dan berusaha membuat saya merasa bersalah dan marah. Lalu saya ditarik oleh kakak pendamping kegiatan ke belakang sekolah. Disana saya dimarahi sendiri, diomeli macam-macam yang menurut saya sangatlah tidak bermutu.
Saya akui di saat saya dibawa ke belakang sekolah dan dimarahi habis-habisan, kemarahan saya mulai sedikit bergejolak (sebenarnya saya bersifat penenang, yang tak mudah tersulut emosi). Dalam omelan kakak pendamping itu saya masih berpikir jernih, saya jawab semua pertanyaannya, saya bantah semua dugaannya dan saya tunjukkan bukti-bukti. Dalam pikiran tenang itu saya sempat berpikir jika orang itu terus memarahi saya tanpa alasan yang jelas selama 30 menit, maka akan saya lempar batu ke kepalanya. Benar, saya sempat melirik kanan kiri memilih batu yang besar dan cukup kuat untuk saya lempar ke kepalanya. Memang saya masih bisa berpikir tenang, tetapi jika saya ditekan begitu terus padahal argumennya yang dibicarakan terhadap saya salah kaprah, maka saya siap membela diri. Ya karena melalui omongan selalu dibantah ya salah satunya harus menggunakan kekerasan. Maaf ya mas...
Tapi untungnya sebelum niat itu saya lakukan, tiba-tiba teman-teman saya datang dari balik gang laboratorium dengan membawa lilin dan membawa sebuah untaian bunga dan daun-daun kering sambil mengucapkan "Slamat ulang tahun... Happy birthday...". Wawww... yang jelas saya kaget juga, dalam keluarga saya, kami tidak pernah merayakan ulang tahun, hari ulang tahun itu saya anggap seperti hari-hari biasanya, tak ada yang spesial. Ya mungkin satu dua yang kasih selamat pada saya dan mereka yang mengucapkan selamat kebanyakan malah teman-teman jauh alias bukan teman dekat. Memang saya jarang memberi tahu ulang tahun saya pada teman-teman, di jejaring sosial pun saya tidak menuliskan tanggal ulang tahun dengan benar, hanya bulannya saja yang saya tulis benar. Sedikit saya selewengkan tanggalnya menjadi 29 Februari dan tahunnya di tua kan menjadi 88.
Sambil membawa lilin dan menaruh untaian bunga dan daun kering sehingga membuat saya sangat jelek, mereka tertawa-tawa puas telah mengerjai saya. Yang ada di sana hanya panitia saja, sedangkan peserta sudah terlelap tidur. Lalu mereka menyuruh saya untuk meniup lilin-lilin yang mereka bawa yang banyak jumlahnya, yang sebenarnya untuk renungan malam pada pagi harinya. Lalu saya tiup satu persatu lilin-lilin itu hingga padam. Ketika lilin terahir akan saya tiup, seorang teman menyuruh saya untuk berdoa. Memang tidak ada tradisi tiup lilin di ulang tahun saya sebelumnya, jadi saya tak tahu kalau sebelum tiup lilin harus berdoa terlebih dahulu.
Setelah saya pikir-pikir, saya berdoa untuk keselamatan orang tua saya, kesuksesan saya, dan yang terakhir entah kenapa saya berdoa agar bisa melihat hantu/setan. Mungkin doa terakhir tersebut akibat selama seminggu itu saya sering mendengar cerita dari orang-orang yang sebelumnya telah melihat setan, yang akhirnya mengakibatkan saya penasaran apakah benar setan itu ada. Saya bukan orang yang percaya akan mahluk gaib, setan atau yang lainnya. Orang tua saya bilang kalau mereka memang ada tapi tak seharusnya mempercayainya, walaupun bapak, ibu dan kakak saya pernah melihatnya.
Singkat cerita, malam jam 2 kami mulai membangunkan peserta untuk renungan malam. Peserta kami bawa ke mushola sekolah. Disana akan diadakan sholat malam berjamaah. Musola kami berada di bangunan paling Timur, diantara kelas X-4 dan X-5. Dan di Timurnya adalah lapangan basket. Memang sebelumnya pernah ada kabar kalau di lapangan basket yang segaris dengan lapangan-lapangan lain (lompat jauh, tolak peluru, voli, dll) dan berujung dengan aula sekolah tersebut, ada tempat yang paling besar tekanan rohnya (kata teman saya dari SMA lain yang bisa merasakan hawa mahluk seperti itu). Tapi saya tak takut, karena pada saat pentas seni dulu saya dan teman-teman berkumpul di kelas X-5 yang posisinya tepat disamping lapangan basket (dulu saya duduk di kelas X-5 pada saat kejadian sudah duduk di bangku XI IPA).
Karena saya tak percaya akan adanya hantu dan sejenisnya, saya mengajak dua orang teman (cowok) untuk berjalan-jalan ke X-6 yang berada paling belakang (Selatan) sekolah karena menurut cerita di sekitar pohon pisang yang ada di sepanjang Selatan lapangan sering ada rasa aneh saat kesana. Jadi saya dan teman-teman saya yang tak mengikuti sholat malam karena dapat tugas jaga keamanan jalan-jalan ke belakang sekolah.
Memang di sekolah saya terdapat banyak pohon, mulai dari pisang sampai pohon jati dan mangga. Saat masih berjalan di koridor X-5, saya melihat seperti ada orang di samping pohon pisang yang berada di samping kelas X-6. Saat itu saya berpikir kalau itu orang pencari rumput. Maklum kalau musim hujan banyak rumput yang tumbuh tinggi di lahan-lahan yang tak dijadikan lantai semen, rumputnya pun tinggi-tinggi. Mungkin kalau orang yang pertama kali masuk sekolah kami ini akan berkata "ini sekolah apa sawah??" (seperti saya saat pertama kali masuk sekolahan ini), habisnya semua lapangan kecuali lapangan basket dan lapangan upacara tidak di pafing atau di semen.
Selain itu pada saat sholat ishak jam 10 malam saya memang bertemu dengan pencari rumput yang masuk ke sekolahan dan juga saya dan teman-teman saya berbincang banyak dengan bapak tersebut jadi saya masih berpikir kalau itu adalah pencari rumput. Saya lihat orang tersebut berdiri menghadap Timur, sikapnya seolah-olah sedang sholat tetapi menghadap Timur. Pakaiannya putih halus (tidak kusut) dan rapi. Saya tak begitu jelas melihat wajahnya karena sedikit terkena bayangan daun pisang, tapi saya dapat melihat dengan jelas lekukan hidung dan mulutnya. Kepalanya sedikit menunduk persis seperti orang sholat.
Hingga mendekati koridor kelas X-6 hati saya berasa tak enak, seolah-olah jantung saya bisa bicara, seolah-olah jantung saya berdetak dan berkata "Yang kau lihat itu bukan manusia!!!". Tapi pikiran saya masih berkata kalau itu manusia. Selangkah kemudian jantung saya berdetak dengan cepat dan dia seolah-olah berkata lagi kalau yang saya lihat itu bukan manusia. Dua tiga langkah kemudian detak jantung saya seolah-olah makin keras dan saya tak tahu harus berkata apa, yang jelas perasaan yang tadinya tenang menjadi mencekam dan takut. Tapi otak saya masih berpikir kalau itu manusia bukan hantu/ setan. Sumpah... dalam pikiran saya yang saya lihat itu tetap manusia, hanya hati saya saja yang mengatakan itu adalah setan.
Otak saya pun berjalan dan mendapatkan ide untuk mengetahui yang sebenarnya, apakah yang saya lihat itu setan atau manusia. Saya yang berjalan di sebelah kiri lalu berpindah ke tengah kedua teman saya. Saya hentikan mereka berdua, saya rangkul keduanya mendekati saya. Saya bisikkan sebuah pertanyaan pada mereka.
"Kalian lihat orang di depan tidak?", tanya saya.
"Orang siapa? Jangan nakut-nakuti kamu!!", balas mereka.
"Itu yang pakai baju putih di samping pohon pisang di depan?", kata saya memperjelas pandangan ke arah segerombol pohon pisang di depan kami.
"Alahhh... itu pohon pisang yang terkena lampu atau bayangannya yang seperti pohon", jawab mereka ketus.
"Bukan, itu lo yang menghadap Timur?", lebih saya perjelas lagi.
"Mana?", balas mereka sambil penasaran.
"Beneran kalian tak melihatnya?", tanya saya lagi. Dan mereka membalas dengan menggeleng.
Melihat jawaban mereka saya simpulkan kalau yang saya lihat itu bukan manusia tapi hantu. Bulu kuduk saya mulai berdiri, jantung berdebar-debar, rasa takutpun merajalela. Ketika kedua teman saya mau melanjutkan melangkah ke depan saya tarik mereka. Entah kenapa saya yang paling kecil di antara mereka berdua dapat sekuat tenaga menarik mereka, padahal mereka menarik saya kearah berlawanan. Rasa takut dan khawatir menjadikan saya semakin bingung mau berbuat apa. Sebagai panitia saya tak boleh membuat panik teman-teman saya apa lagi peserta. Tapi saya bingung harus berbuat apa, yang bisa saya lakukan hanya diam sambil merahasiakannya. Karena saya paksa, mereka ahirnya mengikuti saya. Selangkah menjauh dari si hantu saya melihat dia masih ada, dua langkah kemudian saya lihat belakang masih ada dan langkah ketiga saya lihat lagi barulah dia lenyap. Lenyap entah kemana, yang jelas saya sudah tak melihatnya lagi.
Kami kembali ke musola bersama teman-teman. Saya waktu itu langsung keringat dingin, wajah pucat dan nafas sedikit tersenggal-senggal. Kedua teman saya belum tahu apa yang terjadi, mereka tak curiga karena mereka berdua tak melihatnya. Lalu datanglah teman saya yang cewek yang sedang ambil kotak P3K karena ada peserta yang mengeluh sakit. Dia melihat saya dan memberi perhatian pada saya. "Ada apa El... kok pucat? Jangan-jangan kau lihat setan ya...?", itu pertanyaanya dan langsung saya jawab dengan anggukan. Sebelum dia dan dua orang teman saya yang dari tadi bersama saya bicara, saya bilang pada mereka "Jangan bilang siapa-siapa, nanti kalau sudah pagi aja saya ceritakan", jawab saya singkat dan dimengerti semuanya oleh teman saya.
Saat itu saya mendengar suara burung gagak, seolah-olah suara itu memperingatkan saya dan teman-teman saya. Saya dan teman-teman saya selaku panitia merahasiakannya pada peserta.
Menjelang subuh saat suara imsak, ketika peserta siap-siap sholat subuh dan panitia sedang rapat kegiatan pagi, saya melihat sekelebat bayangan. Itu memang sebuah bayangan karena sorotan lampu taman sekolah. Tapi anehnya bayangan itu menghilang di persimpangan ruang. Yang paling saya ingat bayangan itu seperti wanita yang rambutnya diikat kepang kuda. Kepangan rambutnya terlihat jelas pada bayangan hitam di tembok. Saat saya lihat ke belakang tak ada satupun orang yang ada di sana.
Setelah olah raga pagi, mulai lah pembicaraan. Pembicaraannya tentang yang saya lihat semalam. Sebenarnya saya tak mau membicarakan tetapi teman saya yang melihat saya pucat semalam memojokkan saya dan memaksa saya untuk menceritakan. Semuanya kaget, apa lagi kedua teman saya yang pergi bersama saya, keduanya sama sekali tak melihat apa-apa selain pohon pisang. Mengapa hanya saya saja yang melihatnya, mengapa kedua teman saya tak melihatnya padahal kita jalan bersama, berangkulan. Mengapa hanya saya saja yang melihat sosok putih itu yang tiba-tiba menghilang. Hingga kini saya tak tahu mengapa itu terjadi, yang jelas ternyata hanya saya saja yang melihat dan merasakan sosok putih yang seolah-olah sholat menghadap Timur dengan kepala merunduk. Saya yakin itu manusia karena saya melihat lekukan lipatan tangan, lekukan hidung dan mulut. Semuanya tak percaya, hingga peserta pun ikut bicara.
Kebanyakan peserta mengatakan kalau sebelum sholat malam tersebut mereka malihat kelelawar yang sangat besar terbang menembus jaring pembatas lapangan basket. Kalian tahukan jaring kawat di pinggir lapangan yang bertujuan agar bola tidak keluar jauh. Nah jaring yang tak bisa tembus bola tenis sekalipun tiba-tiba tembus oleh kelelawar yang sangat besar. Menurut cerita mereka selain itu dari kelas X-4 kebanyakan peserta melihat burung, entah burung apa yang menembus masuk ke ruang kelas itu tepat di jendela kaca.
Mungkin ini kado dari Tuhan atas doa saya lewat lilin terahir. Doa agar bisa melihat setan telah terkabul. Sampai sekarang saya masih merasakan ketegangan saat itu. Dan mulai saat itu saya tahu saya tak boleh berdoa sembarangan apalagi doa yang jelek.
- Ali -
28 comments:
Panjang bnget.. Tp oke lah, pozting lg ya..
bahasanya bagus tapi yg menonjol kok mlah perayaan ultah km ya?? seolah2 penampakannya cuman sebagai pelengkap cerita..
lumayan lah..
SEMANGAT!!!
bagus, meskipun panjang tapi enak bacanya,
cerita nya kepanjangan ... But overall bagus kok..
mnurut gue yg aneh,,, jam 10 malam kan gelap bnGet² banget³...
mna ada orang cari rumput, bisa-bisa tangan nya terluka karena sabit...
tulisa terlalu panjang ,, lebih baik anda menulis dengan kalimat yang efektif...
semangat..!!!... (ˇ˛ˇ )^˛ ^ )
Stelah saya baca ulang, trnyata mch panjang jg ya kalimatnya..wkwkwkw
suka bnget ma crita nie, karna smua pnjelazan.ny seakan-akan real apa adanya n alur.ny jg baguz..
Walopun kalimatnya panjang tp pnataan n pmilihan kata.ny baguz dan mudah d.mengerti..
Mungkinkah kalo crita nie d.ucapkan scara lisan akan lbih baguz dr yg tulisan.? Hanya pnulis n wkt yg bisa membuktikan..
Jd tringat crita yg judulnya Blog Yang Bagus bulan2 kmaren..
sebenarnya penampakannya biasa aja tapi karena si penulis pintar dalam mengolah kata jadi berasa banget spookynya,walapun panjang ceritanya tapi dari situ kesan seramnya dapet,ditunggu cerita selanjutnya ga
ya ampun kok bisa panjang bgt ya postingan nya,, acara ulang tahun nya aja beberapa paragraf,,,
Exellent..itu komentar q tentang kemampuan kk ali dlm merangkai kalimat..walaupun kata-kata yg digunakan sebenarnya itu-itu saja tp alur ceritanya mengalir dgn natural dan tidak terkesan berlebihan/dibuat-buat.. Sayangnya, tulisan seperti itu tidak efektif, banyak pengulangan di sana sini yg tidak perlu karna penulisan ide cukup sekali saja, sisanya tinggal di follow up oleh supporting statements aja..
SOK TAU LO WYNNE ERT!!!!!!!!
apa anda penulis cerita blog yang bagus???
cara penulisannya sungguh rapi....
n suer tulisannya kayak wartawan dech
weleh2..
ada lg orang sputid yg bisanya cuman nghina aja..
wez, km q tantang, share cerita dimari.. apa km berani?? bisa nulis paling tidak serapi tulisan di atas??
jika tidak,, shut up your BACOD..
terima tantangan itu??
lok tulisanmu sebagus ini, q ngaku km itu raja dalam nulis n komentar.. q hormatin deh km..
berani g?? jgn cuman besar di BACOD nyiut di nyali..
mgkin komentator lain jg setuju?? gimana??
monggo..
@jessica gello : hiii cantiiiikk...
hmm.i like it
Iya nie, orang yg ga brpendidikan biasanya ga bisa koment membangun tp cuma bisa ngehina orang laen yg koment..
Bwt kk Wynne semangat kk, ga usah kpancing emosi atau d.masukan ke hati.. Biarin aja, orang2 kaya gtu ntar jg MATI sendiri..!!
Aq setuju ma bang Ridho, aq tantang jg tuh orang, andai bisa nulis lbih baguz dr crita d.ataz, udah aq hormati deh kesrakahan lu dlm koment...
selow kk..siapa pun itu, mau menghujat atau memuji hak masing-masing individu..silahkan saja..aq sama sekali ga merasa offended.. ga perlu rame..hargai c penulis..uda cape-cape ngetik malah di jadiin ajang ribut..
aku suka ceritanya.bagus dan penulisan nya rapih jadi gak bingung bacanya.walaupun cerita nya panjang aq suka bacanya kok. tetap posting cerita lagi ya..
curhat apa kang??
ini kompetisi bikin cerita kah ya??
ada jurinya jg ya??
gampang di mengerti yg pasti
satu hal yang pasti, penulis cerita kaga mungkin ngetik pake hape alfanumerik. kemungkinan ngetik pake hape layar sentuh juga kecil. kalo pake hape qwerty juga rasanya susah.
ane percaya, penulis mengetik cerita di atas menggunakan keyboard. entah di desktop atau laptop.
Ad ap sh? cp yg menghina oxion? menghina cp?
kok aneh ya rasanya....
cerita misteri apa curhat tentang ultah yang ke 17
trus juga kpanjangan...
keep posting ea tp bzok dlbih sngkat dan padatin lagi ceritanya.....
good....
wahhh...ada rame2 nih, i ketinggalan lagi dech
tonggos bru oplas lg y d japan'
nih cerpen pa novel pnjaaaaaaaaaaaangg bnget
judul nya lbih cocok "Lilin Terakhir"
haha,,just kiding ^^
tapi bagus loh ceritanya,,,
baru x ini au terbawa suasana yg bikin merinding skujur tubuhku ...
lanjutkan ea kak .. ^^
Panjang banget kenapa nggak di jadiin buku kan bisa di baca kapan aja kalaw belum selesai wkwkwkwkwkwkw Just Kidding
Poskan Komentar
Masih terlalu banyak pengganggu...
Komentar akan ditampilkan setelah dimoderasi.